Catatan Perjalanan : Merasakan Sensasi Premium Rute Dari Klaten ke Bali Bersama Gunung Harta

Setelah terakhir kali melakukan perjalanan ke Bali bersama keluarga pada Mei 2023, akhirnya saya berkesempatan untuk ke Bali bersama Bapak, Ibu dan Istri saya pada awal November ini. Sedikit cerita, di tahun 2023 lalu saya ke Bali bersama Bapak, Ibu dan Adik saya naik pesawat. Kala itu tarif penerbangan Jogja ( YIA ) ke Bali ( DPS ) masih bisa dapat di harga 600 ribuan. Berbeda dengan sekarang. Karena berbagai peristiwa yang ada, harga tiket pesawat dari Jogja ke Bali melambung sampai menyentuh angka 1,2-1,4 jutaan. Tentu itu tidak ekonomis kalau harus ke Bali berempat.

Saya kesampingkan pesawat untuk rute Jogja ke Bali. Pilihan saya jelas jatuh pada bus. Saya memilah-milah bus apa yang bakal saya naiki bersama keluarga. Untuk rute Jogja ke Bali sendiri pilihan busnya sangat bervariatif. Ada yang harganya murah sampai yang harganya agak mahal. Pada akhirnya saya memilih naik Gunung Harta kelas Eksekutif Premium untuk berangkat ke Bali dan Tami Jaya Suitesclass untuk kembali dari Bali ke Klatennya. Nah, yang akan saya ceritakan kali ini adalah keberangkatan ke Bali bersama Gunung Harta.

Perjalanan ini saya lakukan tanggal 1 November 2026. Untuk tiket sudah saya reservasi sebulan sebelumnya via website Gunung Harta. Harga tiket kelas premium sendiri adalah 380 rb keberangkatan dari Klaten dan turun di Garasi Gunung Harta Cokroaminoto, Denpasar. Cara pesannya pun gampang kok. Kalau pembaca ada yang mau pesen bisa lewat link ini.

Sesuai tiket, saya harus standby di Terminal Penggung sebelum jam 13.15. Jam 12.30 saya sekeluarga udah berangkat dari rumah diantarkan paman saya. Kebetulan dari rumah ke Terminal Penggung tidak begitu jauh. Mungkin hanya 10 menitan. Sekitar 12.45 saya sudah ditelpon crew bus yang akan saya naiki. Kebetulan saya juga udah sampai di lokasi.

Bus tiba di Terminal Penggung agak terlambat dari jadwal. Bus baru tiba jam 13.35. Sepertinya macet di jalan karena Tami Jaya Suitesclass yang seharusnya tiba jam 13.00 pun ternyata juga tiba bersamaan dengan Gunung Harta yang saya naiki. Begitu bus tiba saya langsung naik. Cerita sedikit soal busnya. Bus Gunung Harta yang saya naiki ini menggunakan chassis premium dari Volvo yaitu Volvo B11R 450HP. Jadi yang saya naiki ini adalah bus tronton. Untuk bodinya menggunakan Legacy SR3 XHD Prime buatan karoseri Laksana. Konfigurasi kursinya standar 2-2, toilet udah pasti ada, ada smooking room di bagian depan. Kita juga diberikan welcome snack yang isinya sebotol air mineral, coca-cola dan beberapa jenis makanan ringan yang pas banget buat ganjel perut. Untuk AC jujur, dinginnn banget. O iya, rute bus ini adalah Magelang-Denpasar. Tapi Klaten masih bagian dari titik jemputnya sehingga masih bisa naik dari Klaten.

Kursi bus Gunung Harta Premium rute Magelang-Denpasar

Setelah saya naik bus langsung melaju. Saya sempat mengira busnya bakal lewat arteri Jogja-Solo. Ternyata masuk Tol Polanharjo dan keluar di Gerbang Tol Ngemplak. Nah dari situ bus masuk ke Terminal Tirtonadi kemudian menuju ke agen bus di Jalan Setiabudi, Solo. Disana cukup banyak penumpang yang naik. Kondisi bus bisa dibilang hampir terisi sepenuhnya. Setelah menaikkan penumpang di agen Setiabudi bus melaju menyusuri jalan raya Solo-Palur. Setelah lepas Palur, bus masuk ke Gerbang Tol Karanganyar.

Bus langsung dipacu melalui ruas tol Solo-Ngawi. Sekitar jam 14.50 bus masuk ke Rest Area 519A. Saya terkejut disini. Awalnya saya mengira service makan bakal diberikan di RM Titin, Caruban. Lha ternyata malah di RM RBT hahaha. Tapi nggakpapa, RM RBT juga enak kok. Saya juga sering makan disini ketika menikmati service makan dari bus Tividi. Menu yang disajikan untuk penumpang bus Gunung Harta Premium juga kurang lebih sama dengan yang disajikan untuk bus Tividi. Nasi ambil sepuasnya, sayur bebas namun untuk lauk hanya bisa memilih 1 jenis dari beberapa jenis yang disediakan. Untuk minumnya ada pilihan teh panas maupun es teh.

Bus Gunung Harta terparkir di Sekulan RBT

Jam 15.30 bus kembali diberangkatkan. Sayangnya gak bisa langsung ngegas karena harus antri keluar rest area bersamaan dengan kendaraan lain yang ngisi solar di SPBU Rest Area KM 519A. Jadinya ada waktu yang terbuang disini. Begitu keluar rest area bus langsung dipacu menuju ke arah timur.


Jam 16.50 bus keluar di Tol Caruban. Saya agak bingung disini. Bukannya tadi udah servis makan di RBT, tapi kok ini keluar di Caruban. Mosok ke RM Titin buat servis makan lagi. Ternyata ada penumpang yang naik dari dekat RM Titin. Wah berarti titik jemput bus Gunung Harta ini luas banget ya, bisa nyampe ke Caruban.

Setelah menaikkan penumpang, bus kembali masuk Tol dan dipacu lagi. Dengan suspensi bawaan Volvo B11R, guncangan menjadi tidak begitu terasa. Penumpang juga bisa beristirahat. Beberapa penumpang bahkan terlihat tertidur lelap meskipun bus dipacu dengan kecepatan tinggi di sepanjang jalan Tol.

Sekitar jam 20.05 si merah yang saya tumpangi keluar di Tol Paiton untuk kembali masuk ke Pantura. Kalau saya sih semoga Tol transjawa segera tersambung sampai ke Banyuwangi untuk mempersingkat waktu tempuh menuju ke Banyuwangi. Setelah keluar Tol Paiton tak lama bus melewati PLTU Paiton. Salah satu PLTU terbesar di Asia Tenggara ini menjadi salah satu bagian menarik ketika naik bus ke Bali melewati jalur Paiton apalagi saat malam hari. Kelap kelip lampu PLTU menjadi hiburan sejenak bagi para penumpang.

Tak lama setelah melewati jalur Paiton, saya tertidur. Terbangun kembali sekitar pukul 1.30. Saya terkejut ketika mengetahui posisi bus saat ini berada di Rogojampi. Ternyata ketika bus sampai di Situbondo, sopir tidak membawa si merah ini masuk ke jalur Baluran melainkan belok ke arah Jember dan menuju ke Pelabuhan Ketapang via jalur Gunung Gumitir. Wah sayang sekali saya ketinggalan aksi bus ini ketika melewati alas Gumitir. Aku tau pasti alasan kenapa si merah melakukan "manuver" ini yaitu karena kemacetan di Pelabuhan Ketapang. Saya iseng membuka grup FB yang membahas soal jalur Ketapang-Gilimanuk dan benar saja, antrian kendaraan mencapai 5 km ke arah Utara. Jadi bisa saya katakan pilihan sopir untuk masuk ke Pelabuhan Ketapang dari Selatan adalah pilihan tepat.

Jam 02.15 bus sudah mendekati Pelabuhan Ketapang. Sempat tersendat macet tapi kurang dari setengah jam sudah masuk area pelabuhan. Di area pelabuhan ini crew bus membagikan pop mie rasa soto ke setiap penumpang. Penumpang yang ingin menyeduhnya bisa memanfaatkan dispenser yang ada di bus.

Apakah begitu masuk kawasan pelabuhan langsung bisa masuk kapal? Tentu saja tidak. Si merah yang aku tumpangi berbaris rapi dengan bus lainnya. Sayangnya kondisi hujan deras sehingga saya tidak bisa turun untuk memfoto bus-bus yang sedang antri. Salah satu bus yang bisa saya foto adalah bus Rasa Sayang yang merupakan salah satu bus dengan trayek terpanjang dari Jakarta - Surabaya - Denpasar - Mataram - Bima. 6 provinsi dan 4 pulau dilalui oleh bus ini. Kalau tak salah bus ini memerlukan waktu 3-4 hari untuk menyelesaikan tiap tripnya.

Bus Setiawan rute Surabaya - Denpasar

Si penakluk 4 pulau. Rasa Sayang rute Jakarta - Bima.

Karena di luar hujan dan tak ada yang bisa dilakukan, saya lebih memilih memanfaatkan waktu menunggu untuk tidur. Tercatat kami harus antri selama 3 jam sebelum bisa masuk ke kapal. Jam 05.20 bus yang saya tumpangi baru bisa berjalan menuju dermaga untuk masuk ke lambung kapal.


Si merah Gunung Harta yang saya tumpangi tidak sendirian. Di lambung kapal yang sama ada beberapa unit bus Pariwisata Subur Jaya yang membawa rombongan dari MTs Negeri Boyolali yang akan melakukan study tour ke Pulau Dewata. Selain itu bus Rasa Sayang tujuan Bima tadi juga ada di kapal yang sama. Bisa dipastikan bagaimana riuhnya kapal itu dengan ratusan anak-anak MTs peserta study tour.

Pukul 5.50 kapal akhirnya mulai berlayar menuju Pulau Dewata. Ombak agak kurang bersahabat pagi itu. Kapal sedikit terombang-ambing. Beberapa penumpang terutama siswi-siswi peserta study tour terlihat sedikit tegang. Beberapa penumpang lain yang mungkin sudah terbiasa terlihat bersantai ngopi sambil menikmati pemandangan Selat Bali.

Meninggalkan Pelabuhan Ketapang

KMP Tunu Pratama Jaya yang berlayar dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang

Meski di awal gelombang sempat kurang bersahabat, tapi puji syukur pelayaran dilalui dengan lancar. Jam 07.50 WITA proses sandar sudah selesai dan tinggal proses bongkar. Berbagai kendaraan yang ada di lambung kapal satu per satu keluar dan memasuki Pulau Dewata.


Begitu keluar area Pelabuhan Gilimanuk bus langsung melaju menuju ke Denpasar. Kebetulan pada saat itu Jalan Raya Gilimanuk-Denpasar agak padat. Seringkali bus terpaksa berjalan perlahan di belakang truk pengangkut barang sehingga bisa dipastikan kami akan baru sampai di Denpasar jelang tengah hari.

Saya sendiri lebih memilih menikmati pemandangan sisi barat Pulau Bali. Pantai di sisi selatan berpadu dengan pegunungan di sisi utara benar-benar menyajikan pemandangan yang indah. Ini adalah salah satu momen yang paling aku suka ketika naik bus dan melewati jalur sisi barat Pulau Bali.

Memasuki Tabanan satu per satu penumpang mulai turun. Ada yang turun di kawasan Tabanan seperti Selemadeg dan Kediri, ada juga yang turun di Terminal Mengwi dan Sempidi. Sebagian besar penumpang memilih turun di Garasi Bus Gunung Harta yang berada di Jalan Cokroaminoto, Kota Denpasar tidak jauh dari Terminal Ubung. Ini memang kebiasaan sebagian besar penumpang bus AKAP dari dan ke Bali. Kebanyakan memilih naik dan turun di garasi busnya daripada harus ke Terminal Mengwi yang jaraknya agak jauh dari Kota Denpasar.

Jam 11.50 akhirnya tibalah si tronton merah ini di markas besarnya di Jalan Cokroaminoto, Kota Denpasar. Seluruh penumpang tersisa turun di sini. Saya sendiri bersama keluarga akan melanjutkan perjalanan menuju Selat, Karangasem dengan mobil sewaan yang sudah kami booking 2 hari sebelumnya.

Proses penurunan barang bawaan penumpang

Terima kasih Gunung Harta

Akhirnya usai sudah perjalanan ini. Kalau dari saya pribadi dengan 380 rb itu udah cocok banget kalau dapat busnya yang seperti ini. Chassis premium, kursi nyaman dari rimba kencana dan snaknya juga lumayan banyak kalau menurut saya. Salah satu yang jadi nilai jual utama bus ini ya Volvo B11Rnya. Kalau bus lain dengan harga yang sama menggunakan chassis seperti Mercedes-Benz OH1626 atau Hino RN285, Gunung Harta dengan pede menurunkan Volvo B11R.

Yah semoga persaingan sehat antar bus di jalur Yogyakarta-Bali ini berlanjut sehingga penumpang semakin banyak pilihan sesuai selera masing-masing. Ada yang mau snaknya banyak, ada yang mau busnya banter dan ada juga yang mau busnya pakai chassis premium. Semua ada pasar masing-masing.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tami Jaya, Pilihan Saya di Jalur Jogja - Denpasar

Self Reward Bukanlah Pemborosan

Ibu Saya dan Sebuah Warisan Kebiasaan Yang Paling Berharga