Self Reward Bukanlah Pemborosan
Saat masih sekolah saya pernah kepengen banget punya beberapa barang, salah satunya adalah jersey original Manchester United. Sebuah benda yang mustahil banget saya dapatkan waktu itu karena beberapa alasan. Pertama, harga jersey Manchester United yang original nggak murah. Versi replikanya saja bisa satu juta. Terlalu mahal untuk ekonomi bapak saya yang kala itu sedang penuh terpaan badai. Kedua, kalaupun bapak saya ada duit rasanya juga belum tentu mau ngebelikan saya jersey Manchester United original. Kalaupun belikan jersey MU, palingan ya jersey grade ori yang harganya 100 ribuan itu.
Puji syukur keinginan saya akhirnya bisa terkabul saat saya sudah kerja. Saya akhirnya bisa membeli jersey original Manchester United 2021 versi replika yang third sekaligus jersey latihannya. Kalau ditotal saya menghabiskan 1,6 juta rupiah di hari itu untuk membeli kedua jersey itu. Lalu apakah itu pemborosan? Bagi saya bukan. Itu adalah cara saya untuk memberi hadiah kepada diri saya sendiri atas kesabaran serta kerja keras saya.
Selain kasus jersey tadi, peristiwa lain yang saya anggap self reward untuk diri saya adalah ketika saya dengan gabutnya naik bus dari Klaten ke Bali, nyampe Bali istirahat 7-8 jam dan balik lagi ke Klaten. Dalam perjalanan kurang lebih 2 malam itu saya menghabiskan hampir sejuta. Apakah pemborosan? Bagi sebagian orang mungkin ini bukan cuma boros. Tapi juga gila. Orang mana yang dari Klaten ke Bali tanpa ada urusan apa-apa terus balik lagi ke Klaten? Ada, ya saya orangnya. Orang yang dari kecil pengen banget naik bus Restu Mulya & Mansion. Jadi dari kecil saya penasaran banget naik bus Restu Mulya, sementara saya juga dengar kalau bus Mansion juga buka rute Jogja ke Bali. Jadilah saya ke Bali naik Mansion, lalu balik lagi ke Klaten naik Restu Mulya.
Lalu apakah self reward selalu berkaitan dengan balas dendam karena masa kecilnya tidak pernah keturutan keinginannya? Tidak juga. Saya punya seorang teman dan dia pernah berkata "Jaman aku kecil dulu orang tuaku selalu menuruti keinginanku, mosok sekarang aku dah besar harus menahan keinginanku". Self reward adalah hak semua orang dan self reward bukanlah pemborosan.
Terkadang seseorang yang ingin memberi hadiah untuk diri sendiri bisa terlihat konyol dan lucu bagi orang lain. Saya pernah membantu kawan saya yang bernama Ivan memberesi barang-barangnya. Dan saya menemukan banyak sekali pernak-pernik bertemakan Spongebob. Padahal usianya 23 tahun kala itu. Salah? Tidak. Itu adalah cara dia untuk memberikan penghargaan ke diri sendiri. Boros? Tidak ada kata boros untuk membahagiakan diri.
Lalu apakah saya membenarkan pemborosan? Enggak ya pembaca. Saya cuma mau bilang aja bahwa pemborosan dan self reward itu dua hal yang berbeda. Boros itu ketika kita tidak bisa mengontrol pengeluaran kita sampai-sampai yang penting tidak bisa kita selesaikan. Bagaimanapun juga manajemen keuangan juga penting. Semuanya harus seimbang dan harus paham prioritas. Tapi jangan sampai kita melupakan memberi hadiah ke diri sendiri.

Selagi masih bisa kontrol pengeluaran ya aman aman aja sih
BalasHapus