Catatan Perjalanan : Tividi, Bus Murah Yang Fasilitasnya Nggak Murahan

Di blog ini sekitar tahun 2017 saya pernah nulis tips perjalanan murah meriah tapi nyaman dari Klaten ke Malang. Waktu itu saya menuliskan rutenya dari Klaten naik bus dahulu ke Surabaya kemudian lanjut naik bus dari Surabaya ke Malang. Nah sekarang saya akan mengatakan cara itu udah nggak begitu relevan lagi karena ada bus yang bisa langsung ke Malang yaitu Tividi. Sebenarnya bus ini rutenya Cilacap-Malang. Tapi tarifnya parsial sehingga bisa naik dari Klaten. Tarif Klaten-Malang atau sebaliknya adalah 200 ribu dan bahkan untuk harga member 180 rb. Murah bukan?

Perjalanan ini saya lakukan tanggal 24 September 2026 ketika setelah menyelesaikan urusan berkas pernikahan saya di Malang, saya mau pulang ke Klaten. Saya sempat tertarik naik Juragan99 Trans Private Class tapi sayangnya Juragan99 start dari garasi jam 7 pagi sehingga agak susah kalau ngejar jamnya dari Poncokusumo karena harus nyari orang buat ngantar juga. Akhirnya pilihan saya jatuh ke bus Tividi. Saya pesan di malam hari sebelum keberangkatan. Saat melihat nomor armadanya di tiket tertera Tividi T142 alias unit gress yang bulan sebelumnya dipajang di ajang GIIAS 2026. Wah, benar-benar keberuntungan saya.

Singkat cerita saya diantarkan Mas Anam, kakaknya istri saya ke Terminal Arjosari. Tiba di Arjosari sekitar jam 07.45. masih ada waktu untuk sekedar lihat-lihat kondisi terminal.
Tiba di Arjosari berbarengan dengan masuknya Indorent. Sepertinya baru sampai dari Jakarta.

Saya berjalan ke arah loketnya untuk mencari loket Tividi. Namun area loket sepi, tidak banyak orang disana. Bahkan calo pun jarang. Entah memang benar-benar tidak ada atau belum bertepatan dengan jamnya. Hanya ada seorang bapak yang mungkin petugas loket bertanya saya mau kemana. Saya hanya menjawab "Jogja, Pak. Tividi". Bapak itu kemudian mengatakan mending saya langsung ke busnya aja kalau udah pesen tiket online.
.

Saya berjalan ke arah parkir bus. Disana barisan Tividi sudah menyambut. Tividi T142 dengan warna hijaunya juga sudah nampak disana. Benar-benar masih terlihat baru dan mengkilap.


Sekitar jam 8.10 T142 akhirnya masuk shelter tujuan Yogyakarta-Cilacap. Saya segera menuju kesana untuk lapor diri ke petugas busnya. Sebagai informasi bus Tividi T142 ini menggunakan bodi Jetbus5 Single Glass yang ditopang chassis Hino RM280 yang terkenal sebagai chassis yang lumayan nyaman dari Hino. Dan soal bodi jujur aja saya malah lebih suka Single Glass daripada double glass karena pandangan ke depan kerasa lebih luas, tidak kehalang pemisah kaca pada bus double glass.


Masuk ke interiornya saya dibuat takjub. Dengan tarif 180 rb Malang-Klaten kita sudah mendapatkan bus yang nyaman, kursi yang tebal dan yang paling keren double legrest dimana kita bisa full selonjoran. Satu bus hanya diisi 28 penumpang dimana jarak antar kursi benar-benar lega. Disamping itu juga ada bantal, selimut dan juha mendapatkan snak berupa jajanan ringan yang udah cukup buat mengganjal perut di sepanjang perjalanan sebelum sampai di rumah makan di kawasan Sragen.
Makanan ringan untuk mengganjal perut.

Selonjor mania cuyy

Gimana? 180 rb lho ini.

Bus berangkat dari terminal Arjosari jam 8.27, lebih awal 3 menit dari jadwalnya jam 8.30. Si T142 tidak langsung masuk Tol Singosari melainkan menyusuri arteri untuk singgah di sebuah agen yang ada di kawasan Lawang, Malang. Disana menaikkan sekitar 4 orang penumpang. Setelah menaikkan penumpang baru kemudian masuk Tol Lawang dan langsung menuju Medaeng untuk menaikkan penumpang. Nah ini juga bisa jadi alternatif bagi pembaca yang mungkin ingin sensasi lain perjalanan dari Surabaya ke Jawa Tengah bagian selatan selain bus Eka dan Sugeng Rahayu, bisa naik Tividi.



Jam 9.45 T142 tiba di Redbus medaeng. Setelah menaikkan penumpang langsung lanjut jalan lagi. Tividi tidak masuk ke Terminal Bungurasih sehingga titik naik turunnya hanya di Redbus Medaeng. Malah saya lebih suka sih, bisa langsung ngacir lagi gak perlu muter di Terminal Bungurasih.

Bus terus melaju setelah masuk Tol menuju ke Jawa Tengah. Kecepatan bus bisa dibilang standar, tidak terlalu cepat tidak juga lambat. Dengan kombinasi gaya sopir yang smooth dan kursi bus yang nyaman plus double leg rest, saya sempat tertidur sebentar sebelum akhirnya tiba di Rumah Makan RBT sekitar jam 12.15.

Lagi-lagi saya dibuat terkesima. Bagaimana tidak, tarif 180 rb sudah mendapatkan servis makan yang sangat baik. Semua lengkap dari nasi, sayur, pilihan lauk hingga minumannya. Seingat saya penumpang bebas memilih 1 dari banyak jenis lauk yang tersedia dan sayurnya bebas. Saya memilih lauk ikan lele dengan es teh sebagai minumannya.


T142 tidak sendirian di RBT. Selain itu masih ada GHTS dan KYM Trans. Tividi T142 dan GHTS parkir mengapit KYM Trans. 3 Jetbus terparkir di depan RBT. GHTS Jetbus5 SDD, KYM Trans Jetbus3 HDD dan Tividi demgan Jetbus5 Single Glass.



Bus bergerak dari RM RBT sekitar jam 1 siang. Perjalanan ke arah barat dilanjutkan kembali. Kenyamanan RM280 benar-benar membuat saya terbuai untuk kembali tidur. Saya terbangun saat bus sudah memasuki Terminal Tirtonadi, Solo. Entah jam berapa saat itu.

Setelah keluar Terminal Tirtonadi, bus kembali masuk Tol Ngemplak. Nantinya bus akan keluar di Exit Tol Polanharjo untuk menurunkan saya dan satu penumpang lain baru kemudian masuk kembali ke Tol Polanharjo. Sekitar jam setengah 3 sore akhirnya saya tiba di Exit Tol Polanharjo. Btw Exit Tol Polanharjo ini adalah satu-satunya titik penjemputan dan penurunan Tividi di wilayah Kabupaten Klaten. Bus Tividi tidak masuk ke arteri Solo-Jogja.

Bus Tividi benar-benar memberikan pelayanan terbaik dengan tarifnya yang terjangkau. Kalau dirangkum 180 rb itu saya sudah mendapatkan banyak fasilitas. Bus keren, kursi super nyaman dengan double legrest, snak hingga servis makan yang enak. Tak heran Tividi hampir selalu penuh di hampir setiap tripnya walaupun dalam sehari mereka memberangkatkan 6 bus baik dari Malang maupun dari Cilacap. Kalau dibandingkan dengan pengalaman saya naik KA Kertanegara maupun Malioboro Ekspres untuk rute Jogja-Malang, jujur saya pribadi lebih merekomendasikan Tividi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tami Jaya, Pilihan Saya di Jalur Jogja - Denpasar

Self Reward Bukanlah Pemborosan

Ibu Saya dan Sebuah Warisan Kebiasaan Yang Paling Berharga